Bupati Pohuwato Perjuangkan Enam Titik JIAT untuk Atasi Krisis Air Sawah Buntulia-Duhiadaa

Daerah77 Dilihat
banner 468x60

Pohuwato, AndalanIDN – Bupati Pohuwato, Saipul A. Mbuinga, menegaskan komitmen pemerintah daerah dalam mengatasi persoalan kekurangan air yang selama ini menjadi hambatan utama sektor pertanian di Kecamatan Buntulia dan Duhiadaa. Salah satu langkah yang tengah diperjuangkan adalah pembangunan enam titik Jaringan Irigasi Air Tanah (JIAT).

Komitmen tersebut disampaikan Saipul saat menghadiri Gerakan Tanam Serempak (Gertam) Padi menggunakan metode Pertanian Modern Advanced Agricultural System (PM-AAS) yang berlangsung di lahan Kelompok Tani Sejahtera, Desa Buntulia Utara, Kecamatan Buntulia, Kamis (30/7/2026).

banner 336x280

Menurut Bupati, Pemerintah Kabupaten Pohuwato telah melakukan audiensi dengan Kementerian Pekerjaan Umum guna mengusulkan pembangunan JIAT sebagai solusi untuk memenuhi kebutuhan air di areal persawahan yang selama ini mengalami keterbatasan pasokan.

“Sistem JIAT ini memanfaatkan sumber air tanah yang kemudian ditampung pada bak penampungan sebelum dialirkan ke areal persawahan. Program ini membutuhkan anggaran yang cukup besar, tetapi kami terus memperjuangkannya demi kepentingan petani,” ujar Saipul.

Ia menjelaskan, pemerintah mengusulkan pembangunan enam titik JIAT yang diharapkan mulai direalisasikan pada Agustus 2026.

“Kami memperjuangkan ini, dan mudah-mudahan program JIAT untuk enam titik dapat dimulai pada Agustus. Diperkirakan satu titik JIAT mampu mengairi sekitar 10 hektare lahan persawahan,” ungkapnya.

Saipul mengungkapkan, persoalan pertanian di kawasan Buntulia dan Duhiadaa tidak hanya disebabkan minimnya ketersediaan air, tetapi juga sedimentasi yang menumpuk pada saluran irigasi primer dan sekunder sehingga menghambat distribusi air ke lahan pertanian.

Kondisi tersebut berdampak pada rendahnya luas tanam. Dari sekitar 2.200 hektare lahan persawahan yang tersedia di wilayah Buntulia dan Duhiadaa, baru sekitar 100 hektare yang dapat ditanami.

“Dari 2.200 hektare lahan persawahan Buntulia-Duhiadaa, yang baru bisa ditanam sekitar 100 hektare karena persoalan air,” jelasnya.

Selain mengusulkan pembangunan JIAT, pemerintah daerah juga telah melakukan pengangkatan sedimentasi pada jaringan irigasi. Di sisi lain, normalisasi Sungai Taluduyunu terus didorong agar fungsi Daerah Irigasi Taluduyunu kembali optimal dan mampu mengalirkan air ke ribuan hektare lahan pertanian.

“Semoga solusi yang kami hadirkan ini dapat menjawab keresahan masyarakat petani sawah di Buntulia dan Duhiadaa,” harap Saipul.

Gerakan Tanam Serempak tersebut turut dihadiri unsur Kodim 1313/Pohuwato, Kepala Dinas Pertanian Pohuwato Kamri Alwi, pemerintah kecamatan dan desa, Ketua Induk Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A) Umar Etango, para penyuluh pertanian, serta kelompok tani.

Kegiatan diawali dengan mengikuti rapat melalui zoom bersama Gubernur Gorontalo yang diikuti seluruh kepala daerah beserta jajaran dinas pertanian kabupaten dan kota se-Provinsi Gorontalo.

Metode PM-AAS yang diterapkan dalam gerakan tanam ini mengedepankan pemanfaatan alat dan mesin pertanian modern serta sistem budidaya yang lebih efisien untuk meningkatkan produktivitas. Pemerintah Kabupaten Pohuwato berharap penerapan metode tersebut dapat mempercepat modernisasi pertanian, memperkuat ketahanan pangan, sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani.

 

(Abd)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *