Hari Tani Nasional 2026 : Petani Pohuwato dan Perjalanan Panjang Menuju Sejahtera

Feature92 Dilihat
banner 468x60

AndalanIDN – Pagi belum sepenuhnya terang ketika sebagian petani mulai beranjak menuju lahan. Bagi mereka, sawah dan kebun bukan sekadar hamparan tanah yang menghasilkan pangan. Di sanalah biaya sekolah anak, kebutuhan rumah tangga dan harapan untuk mempertahankan kehidupan dipertaruhkan.

Setiap musim tanam membawa harapan yang hampir sama, tanaman tumbuh baik, air tersedia, hama dapat dikendalikan dan hasil panen memiliki harga yang layak.

Namun perjalanan dari menanam hingga memanen tidak selalu sederhana.

Petani harus menghitung biaya benih, pupuk, obat-obatan, tenaga kerja, pengolahan lahan hingga biaya mengangkut hasil panen. Ketika seluruh biaya itu telah dikeluarkan, mereka masih berhadapan dengan satu pertanyaan: berapa harga hasil panen ketika tiba di tangan pembeli?

Persoalan itu menjadi penting bagi Pohuwato. Sebab pertanian bukan sekadar salah satu sektor ekonomi daerah, melainkan salah satu penopang utama perekonomian masyarakat.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, struktur ekonomi Kabupaten Pohuwato pada 2025 masih didominasi kategori Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan dengan kontribusi 54,63 persen. Pada tahun yang sama, ekonomi Pohuwato tumbuh 7,50 persen, meningkat dibandingkan pertumbuhan 2024 yang mencapai 4,04 persen.

Angka tersebut menunjukkan betapa besar posisi sektor berbasis sumber daya alam dalam perekonomian Pohuwato. Di balik angka itu, ada petani yang setiap musim harus berhadapan dengan biaya produksi, kondisi cuaca, kepastian harga hasil panen hingga ketersediaan air.

Bahkan, masalahnya bukan hanya soal ada atau tidaknya sumber air. Sedimentasi yang menumpuk di saluran irigasi juga menjadi persoalan yang berulang.

Pada Desember 2023, Pemerintah Kabupaten Pohuwato melakukan pengerukan sedimentasi pada saluran irigasi di Dusun Landia, Desa Padengo, Kecamatan Duhiadaa. Saluran sepanjang sekitar 1,3 kilometer disebut telah dipenuhi endapan, material dan rumput liar yang mengganggu aliran air ke lahan pertanian.

Masalah itu belum sepenuhnya berhenti di sana.

Pada Januari 2024, keluhan kembali disampaikan Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A) dan kelompok tani di Desa Padengo. Pemerintah daerah mencatat masih terdapat tiga titik sedimentasi yang dikhawatirkan menghambat kelancaran aliran air ke lahan pertanian.

Persoalan sedimentasi bahkan kembali muncul dalam pembahasan sektor pertanian Pohuwato pada 2026.

Dalam laporan Pemerintah Kabupaten Pohuwato pada Juli 2026, Bupati Saipul A. Mbuinga menyampaikan bahwa sedimentasi yang menumpuk di saluran irigasi membuat aliran air tidak maksimal mengairi areal persawahan.

Mengatasi hal itu, kemudian dilakukan pengangkatan sedimentasi pada jaringan irigasi dan mendorong normalisasi Sungai Taluduyunu agar fungsi daerah irigasi kembali optimal.

Di tengah persoalan tersebut, pemerintah terus mendorong sektor pertanian melalui berbagai program. Swasembada pangan menjadi salah satu agenda besar yang membutuhkan dukungan petani di daerah.

Pohuwato pun berada dalam bagian dari perjalanan tersebut.

Optimalisasi lahan, cetak sawah, bantuan alat dan mesin pertanian serta pembangunan jaringan irigasi menjadi bagian dari upaya meningkatkan produktivitas pertanian.

Balai Penerapan Modernisasi Pertanian (BRMP) Gorontalo mencatat, hingga 2026 realisasi program Cetak Sawah Rakyat di Kabupaten Pohuwato telah mencapai 867 hektare. Program tersebut merupakan bagian dari upaya mendukung percepatan swasembada pangan nasional melalui optimalisasi lahan dan pengembangan cetak sawah rakyat.

Namun bertambahnya lahan produksi belum otomatis berarti seluruh persoalan petani selesai.

Di sejumlah kawasan, air masih menjadi persoalan. Di kawasan persawahan Buntulia-Duhiadaa, misalnya, kebutuhan pengairan menjadi salah satu tantangan dalam mengoptimalkan areal persawahan.

Dari sekitar 2.200 hektare areal persawahan yang tersedia, menurut keterangan Bupati Pohuwato pada Juli 2026, baru sekitar 100 hektare yang dapat ditanami karena persoalan air.

Baca juga : Bupati Pohuwato Perjuangkan Enam Titik JIAT untuk Atasi Krisis Air Sawah Buntulia-Duhiadaa

Pemerintah kemudian mendorong pembangunan Jaringan Irigasi Air Tanah (JIAT) di sejumlah titik untuk mendukung ketersediaan air bagi lahan pertanian terlebih ditengah musim kemarau.

Bagi petani, keberadaan air bukan sekadar bagian dari infrastruktur. Air menentukan apakah benih yang ditanam dapat tumbuh, apakah lahan dapat ditanami sesuai musim dan apakah biaya produksi yang telah dikeluarkan memiliki peluang untuk kembali melalui hasil panen.

Di sisi lain, persoalan kesejahteraan petani tidak hanya dapat dilihat dari luas lahan atau peningkatan produksi.

Badan Pusat Statistik menggunakan Nilai Tukar Petani atau NTP sebagai salah satu indikator untuk melihat daya tukar produk pertanian terhadap barang dan jasa yang dibutuhkan petani, termasuk untuk konsumsi rumah tangga maupun biaya produksi.

Di tingkat Provinsi Gorontalo, NTP pada Mei 2026 tercatat 121,92, turun 3,06 persen dibandingkan April yang berada pada angka 125,77. Data tersebut merupakan gambaran tingkat provinsi dan tidak secara khusus menggambarkan kondisi seluruh petani di Kabupaten Pohuwato.

Angka itu setidaknya menunjukkan bahwa kondisi ekonomi petani tidak selalu bergerak dalam satu arah. Harga yang diterima petani dan biaya yang harus mereka keluarkan dapat berubah dari waktu ke waktu.

Karena itu, cerita tentang Hari Tani Nasional menjadi lebih panjang.

Hari Tani tidak hanya berbicara tentang petani sebagai simbol ketahanan pangan. Ia juga berbicara tentang kehidupan orang-orang yang setiap hari bekerja di balik ketersediaan pangan tersebut.

Ketika pemerintah berbicara tentang produksi, petani berbicara tentang biaya.

Ketika pemerintah berbicara tentang perluasan lahan, petani berbicara tentang air.

Ketika pemerintah berbicara tentang panen, petani juga menghitung harga jual.

Semua persoalan itu bertemu di satu titik, “Kesejahteraan”.

Karena itu, keberhasilan pembangunan pertanian pada akhirnya tidak hanya diukur dari seberapa luas lahan yang berhasil dicetak atau berapa ton hasil panen yang dihasilkan.

Ada ukuran lain yang lebih dekat dengan kehidupan petani, apakah pendapatan mereka mampu memenuhi kebutuhan keluarga, apakah biaya produksi dapat ditutup, apakah mereka memiliki kepastian pasar dan apakah bertani masih menjadi pekerjaan yang ingin diteruskan oleh generasi berikutnya.

Pertanyaan terakhir menjadi penting.

Sebab ketahanan pangan membutuhkan petani, dan petani membutuhkan alasan untuk tetap bertahan di sektor pertanian.

Pohuwato memiliki modal besar untuk itu. Sektor Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan masih menjadi penyumbang terbesar dalam struktur ekonomi daerah. Program perluasan dan optimalisasi lahan juga terus berjalan.

Tetapi tantangan berikutnya adalah memastikan pertumbuhan sektor tersebut benar-benar beriringan dengan peningkatan kualitas hidup orang-orang yang mengerjakannya.

Jika bertani hanya mampu menghasilkan pangan tetapi belum mampu memberikan kehidupan yang layak bagi orang yang mengusahakannya, maka pekerjaan rumah pembangunan pertanian masih panjang.

Hari Tani Nasional 2026 akhirnya bukan hanya momentum untuk memberikan penghargaan kepada petani.

Ini juga menjadi kesempatan untuk melihat kembali bagaimana kebijakan pertanian diterjemahkan hingga ke lahan, bagaimana persoalan petani diselesaikan dan sejauh mana hasil pembangunan benar-benar dirasakan oleh mereka yang setiap hari menanam dan memanen.

Di Pohuwato, perjalanan itu masih berlangsung.

Dari tanah yang diolah, air yang dicari, benih yang ditanam hingga hasil panen yang dijual, ada harapan yang sama, bukan sekedar menjadi petani yang mampu menghasilkan pangan, tetapi menjadi petani yang mampu hidup layak dan sejahtera dengan pekerjaannya.

(Abd)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *