Adat Mopotolungo, Antarkan Perjalanan Panjang Syaiful Hunta Sebagai Camat Buntulia

Daerah335 Dilihat
banner 468x60

Pohuwato, AndalanIDN – Setelah menyelesaikan masa pengabdiannya sebagai Camat Buntulia, Syaiful Bahri Hunta mengikuti prosesi adat Mopotolungo, Kamis (01/10/2026).

Prosesi adat tersebut berlangsung khidmat dengan mengantarkan Syaiful Hunta dari Rumah Dinas Camat Buntulia menuju kediaman pribadinya di Desa Botubilotahu, Kecamatan Marisa.

Mopotolungo merupakan salah satu tradisi adat Gorontalo yang menjadi bagian dari perjalanan seorang pejabat ketika mengakhiri masa tugasnya. Prosesi ini sekaligus menjadi bentuk penghormatan adat kepada pejabat yang telah menjalankan amanah di wilayah yang dipimpinnya.

Rangkaian prosesi dimulai dari Rumah Dinas Camat Buntulia. Syaiful Hunta bersama keluarga kemudian meninggalkan rumah jabatan dan mengikuti iring-iringan menuju kediaman pribadi didampingi Bupati Pohuwato, Saipul A. Mbuinga bersama istri.

Setibanya di rumah pribadi, prosesi adat kembali dilanjutkan oleh para pemangku adat hingga seluruh rangkaian selesai.

Dalam tradisi pemerintahan dan adat Gorontalo, Mopotolungo memiliki makna tersendiri. Jika seorang camat yang baru dilantik diterima melalui prosesi Molo’opu, maka ketika masa tugasnya berakhir, ia diantar kembali secara adat melalui Mopotolungo atau Modepito.

Sementara bagi Syaiful Hunta, prosesi hari ini menjadi bagian penting dari perjalanan pengabdiannya di Kecamatan Buntulia.

“Alhamdulillah, hari ini saya bersama keluarga mengikuti prosesi adat Mopotolungo. Ini bukan hanya sebuah prosesi adat, tetapi juga menjadi bentuk penghormatan terhadap perjalanan pengabdian kami selama berada di Kecamatan Buntulia,” ujar Syaiful Hunta.

Ia juga menyampaikan apresiasi kepada para pemangku adat, pemerintah kecamatan, pemerintah desa, tokoh masyarakat serta seluruh masyarakat Buntulia yang selama ini telah memberikan dukungan selama dirinya menjalankan tugas.

“Saya menyampaikan terima kasih kepada seluruh masyarakat Buntulia yang selama ini telah menerima, mendukung dan bersama-sama membantu kami dalam menjalankan tugas. Jika selama menjalankan amanah ada kekurangan maupun kesalahan, saya bersama keluarga memohon maaf,” ungkap Syaiful Hunta.

Menurutnya, berakhirnya masa tugas sebagai camat bukan berarti berakhir pula hubungan silaturahmi dengan masyarakat.

“Mudah-mudahan silaturahmi dan kebersamaan yang sudah terbangun selama ini tetap terjaga. Buntulia akan selalu menjadi bagian dari perjalanan pengabdian saya,” tandasnya.

Prosesi Mopotolungo tersebut kemudian ditutup dengan doa bersama, sebagai ungkapan syukur sekaligus harapan agar seluruh perjalanan pengabdian yang telah dilalui membawa kebaikan bagi keluarga dan masyarakat.

(Abd)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *