Menegur Tanpa Menjatuhkan, Ketika Kepala Sekolah dan Guru Harus Berjalan Bersama

Daerah, Pendidikan160 Dilihat
banner 468x60

Pohuwato, AndalanIDN – Sekolah bukan hanya tentang papan tulis, ruang kelas, buku pelajaran, atau angka-angka di rapor. Di balik semua itu, ada manusia yang setiap hari bekerja bersama. Kepala sekolah, guru, dan anak-anak yang menjadi alasan semuanya harus berjalan dengan baik.

Karena itu, ketika hubungan antara kepala sekolah dan guru tidak berjalan harmonis, persoalannya tidak selalu berhenti di ruang guru.

Ada proses belajar mengajar yang bisa ikut terdampak. Ada program sekolah yang mungkin tidak berjalan maksimal, dan pada akhirnya ada anak-anak yang secara tidak langsung masuk di tengah persoalan yang sebenarnya bukan milik mereka.

Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Pohuwato, Arman Mohamad, melihat persoalan tersebut sebagai sesuatu yang perlu dicegah sejak awal.

Baginya, sekolah membutuhkan kepemimpinan yang mampu mengayomi, bukan sekadar memberi instruksi.

Apalagi, wajah tenaga pendidik saat ini mulai berubah. Banyak guru berasal dari generasi milenial dan Gen Z yang memiliki karakter, cara berkomunikasi, serta pola kerja yang berbeda dibanding generasi sebelumnya.

“Guru-guru sekarang itu di dominasi oleh generasi milenial gen z, jadi pola pendekatan kepala sekolah terhadap guru-guru muda ini juga sudah harus menyesuaikan. Kepemimpinan yang dulu bersifat otoriter sudah harus dirubah menjadi kepemimpinan yang demokratis,” ujarnya kepada AndalanIDN, Senin (07/09/2026).

Pernyataan Arman itu menggambarkan satu hal sederhana, cara memimpin tidak bisa berhenti pada kebiasaan lama.

Jika dahulu seorang kepala sekolah mungkin lebih identik dengan sosok yang memberi perintah dan guru menjalankan, menurut Arman pola tersebut perlu bergeser.

Sekolah harus menjadi sebuah tim, bukan seperti atasan dan bawahan.

“Kepemimpinan yang dulunya hanya berpusat (one man show) sekarang harus kepemimpinan yang bersifat kolaboratif. Sehingga kepala sekolah yang masih memegang prinsip dimana seluruh kekuasaan itu terpusat pada dirinya dan guru itu sebagai objek yang melaksanakannya itu sudah tidak cocok lagi,” ungkapnya.

Di sebuah sekolah, kepala sekolah memang memiliki tanggung jawab untuk mengoordinasikan berbagai kegiatan. Namun, Arman mengingatkan bahwa posisi tersebut tidak semestinya menciptakan jarak antara kepala sekolah dan guru.

Sebab, kepala sekolah sendiri pada dasarnya adalah seorang guru yang mendapat tugas tambahan.

“Kepala sekolah itu sebetulnya bukan jabatan tetapi tugas tambahan, kepala sekolah itu juga guru,” kata Arman.

Menurutnya, sekolah membutuhkan seseorang yang mampu mengoordinasikan rekan-rekan lainnya. Karena itu, kepala sekolah seharusnya hadir sebagai bagian dari tim, bukan berdiri sendiri di atas tim tersebut.

“Kan sebuah sekolah dibutuhkan seseorang yang mampu mengkoordinir kawan-kawan yang lain maka ditunjuklah kepala sekolah,” ucap Arman.

Dari sudut pandang itu, hubungan antara kepala sekolah dan guru idealnya tidak dibangun semata-mata melalui hubungan atasan dan bawahan melainkan harus dipandang sebagai partner.

“Jadi kita sudah harus merubah bahwa, kita harus menjadi sebuah tim kerja, tim work untuk mencapai tujuan yang sama. Sehingga, dibutuhkan kepala sekolah yang mengayomi, yang menganggap guru-guru itu adalah partner bukan bawahan agar tidak menimbulkan perbedaan pendapat,” jelas Arman.

Teguran yang Tidak Melukai

Dalam kehidupan sekolah, perbedaan pendapat tentu sulit dihindari. Kepala sekolah dan guru bisa saja memiliki pandangan yang berbeda tentang program, cara kerja, maupun persoalan lainnya.

Bagi Arman, perbedaan itu sendiri bukan persoalan besar selama dapat diselesaikan secara baik dan tidak menyeret proses pendidikan anak-anak.

Masalah justru muncul ketika hubungan yang tidak harmonis membuat guru merasa tertekan.

“Dan kalau terjadi perbedaan pendapat antara kepala sekolah dan guru itu kalau hanya persoalannya ditingkat guru dan kepala sekolah itu tidak apa-apa, tetapi imbasnya kepada anak-anak,” terang Arman.

“Guru yang merasa tertekan dia bekerja tidak maksimal, nah imbasnya itu anak-anak. Kepala sekolah yang tidak punya hubungan baik dengan guru maka banyak program sekolah yang tidak jalan,” tambahnya.

Di titik inilah, cara menyampaikan teguran menjadi penting.

Teguran tetap diperlukan ketika ada sesuatu yang harus diperbaiki. Namun, teguran tidak harus berubah menjadi tindakan yang membuat seseorang merasa direndahkan.

Pesan Arman sederhana.

“Harus menegur tanpa menjatuhkan”.

Kalimat pendek itu sekaligus menjadi salah satu kunci dari hubungan kerja yang sehat di lingkungan sekolah: membenahi kesalahan tanpa harus merusak harga diri orang yang melakukan kesalahan.

Ketika Keluhan Mulai Terdengar

Arman mengungkapkan, persoalan hubungan di lingkungan sekolah bukan sesuatu yang sama sekali tidak terdengar oleh Dinas Pendidikan Kabupaten Pohuwato.

Ia menyebut ada sejumlah keluhan yang disampaikan, baik secara resmi maupun tidak resmi.

“Banyak. Baik resmi maupun tidak resmi yang kemarin meledak ini satu sekolah. Tetapi di sekolah-sekolah lain ada tapi belum resmi disampaikan tapi ditemukan keluhan itu,” ungkapnya.

Bagi Dinas Pendidikan, informasi tersebut menjadi alasan untuk tidak menunggu sampai persoalan serupa kembali membesar.

Langkah antisipatif mulai dilakukan.

“Kita antisipatif. Kita lakukan mitigasi sebelum ini melebar ke sekolah lain maka kita sudah antisipatif, dan ini insyaallah akan kami sosialisasikan,” ujar Arman.

Sosialisasi tersebut dapat dilakukan melalui kunjungan langsung ke sekolah maupun dengan mengumpulkan pihak-pihak terkait. Arman menyebut dirinya telah mengunjungi beberapa sekolah.

Tujuannya bukan semata-mata mencari siapa yang salah. Lebih jauh, langkah tersebut diharapkan menjadi upaya agar persoalan hubungan antara kepala sekolah dan guru tidak berkembang menjadi masalah yang lebih besar.

“Agar persoalan seperti ini tidak terulang karena dampaknya kepada perkembangan anak-anak dan proses belajar mengajar,” tegas Arman.

Pada akhirnya, sekolah memang membutuhkan pemimpin. Tetapi sekolah juga membutuhkan kerja bersama.

Sebab kepala sekolah tidak mungkin menjalankan seluruh program sendirian. Guru tidak akan maksimal bekerja jika merasa tidak dihargai. Dan anak-anak tidak seharusnya menjadi pihak yang menerima dampak dari persoalan orang dewasa di lingkungan sekolah.

Mungkin karena itu, perubahan cara memimpin tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang besar.

Bisa saja dimulai dari cara berbicara.

Dari kesediaan mendengar.

Atau bahkan dari satu teguran yang disampaikan dengan tegas, tetapi tetap menjaga martabat orang yang ditegur.

Menegur tanpa menjatuhkan. Memimpin tanpa merasa paling berkuasa. Dan bekerja bersama sebagai satu tim untuk tujuan yang sama: memastikan anak-anak tetap mendapatkan ruang belajar yang sehat.

(Abd)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *