Prestasi Dunia Pendidikan Pohuwato Semakin Beragam, Peran Guru dan Orangtua Jadi yang Utama 

Daerah, Pendidikan129 Dilihat
banner 468x60

Pohuwato, AndalanIDN – Prestasi satuan pendidikan di Kabupaten Pohuwato dalam dua tahun terakhir menunjukkan capaian yang positif dan tersebar di sejumlah bidang, mulai dari olahraga, seni, kreativitas pelajar, pengembangan karakter hingga program pendidikan tingkat nasional.

Sejumlah sekolah tidak hanya mencatat prestasi di tingkat Provinsi Gorontalo, tetapi juga berhasil masuk dalam nominasi, final, hingga mewakili daerah pada program tingkat nasional.

banner 1024x1536

 

Data yang dihimpun mencatat sejumlah capaian tersebut sepanjang Tahun 2025 hingga 2026.

Salah satu yang terbaru adalah SDN 06 Lemito yang berhasil lolos dalam program pengembangan karakter Gerakan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat (7 KAIH) hingga tingkat nasional dan mewakili Provinsi Gorontalo.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Pohuwato, Arman Mohamad, mengatakan capaian tersebut tidak berdiri sendiri. Menurutnya, sekolah-sekolah di Pohuwato memiliki potensi untuk berkembang melalui berbagai bidang yang sesuai dengan kemampuan peserta didik.

“Dimasa sebelum saya mungkin sudah banyak yang sampai ketingkat nasional tetapi di masa saya sebagai kepala dinas baru SDN 06 ini yang sampai ke tingkat nasional dan insyaallah kedepan akan lebih banyak lagi. Kita juga mendorong kedepan agar sekolah-sekolah dapat berprestasi. Ini cita-cita kita semua,” ujar Arman, Senin (31/08/2025).

Prestasi Tidak Hanya dari Satu Bidang

Data Dinas Pendidikan Pohuwato menunjukkan capaian siswa dan sekolah tidak terkonsentrasi pada satu jenis perlombaan.

Pada 2025, SDN 01 Marisa mencatat prestasi pada Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN) Provinsi Gorontalo dengan meraih Juara 2 cabang karate putri serta Juara 3 cabang kids atletik putri.

Prestasi olahraga juga diraih SDN 03 Randangan yang memperoleh Juara 2 O2SN cabang pencak silat putri. SMP 3 Paguat meraih Juara 3 O2SN cabang atletik putri, sedangkan SMP 1 Marisa mencatat prestasi pada cabang pencak silat.

Di luar olahraga, capaian pelajar Pohuwato juga muncul dalam bidang kreativitas dan produksi karya.

SMP 3 Paguat meraih Juara 1 Festival Pendidikan Gorontalo cabang fotografer pelajar jenjang SMP yang diselenggarakan BPMP Provinsi Gorontalo.

Sekolah tersebut juga meraih Juara 2 pada cabang video cerita Gerakan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat jenjang SMP.

Sementara pada program Sobat SMP yang digelar Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, sejumlah sekolah Pohuwato masuk dalam persaingan tingkat nasional.

SMP 1 Lemito dan SMP 2 Marisa tercatat sebagai nominasi tingkat nasional yang mewakili Provinsi Gorontalo. SMP 1 Marisa juga tercatat sebagai finalis Bintang Sobat SMP tingkat nasional.

Capaian tersebut memperlihatkan bahwa jalur prestasi pelajar Pohuwato tidak hanya berada pada kompetisi olahraga, tetapi juga berkembang ke bidang kreativitas, literasi visual, produksi video dan program pengembangan karakter.

SDN 06 Lemito Tembus Nasional

Di tengah sejumlah capaian tersebut, SDN 06 Lemito menjadi salah satu sekolah yang kembali membawa nama Pohuwato ke tingkat nasional melalui program pengembangan karakter.

Sekolah tersebut berhasil melewati proses penilaian Gerakan 7 KAIH dan menjadi perwakilan Provinsi Gorontalo pada tingkat nasional.

7 KAIH merupakan gerakan Kemendikdasmen yang mendorong pembentukan karakter melalui tujuh kebiasaan sehari-hari anak, yakni bangun pagi, beribadah, berolahraga, makan sehat dan bergizi, gemar belajar, bermasyarakat, serta tidur cepat.

Program tersebut tidak hanya menempatkan sekolah sebagai ruang pembentukan kebiasaan, tetapi juga mendorong keterlibatan keluarga dan masyarakat.

Arman mengatakan SDN 06 Lemito selanjutnya akan didorong menjadi salah satu model bagi sekolah lain di Kabupaten Pohuwato dalam penerapan program tersebut.

“Jadi bisa berbagi praktek baik ke sekolah-sekolah lain. Agar sekolah ini mengimbaskan apa yang terbaik dari mereka ke sekolah lain,” kata Arman.

Menurutnya, praktik baik tersebut dapat dibagikan melalui kunjungan antar sekolah maupun forum yang mempertemukan para kepala sekolah.

Tantangan Tidak Berhenti pada Prestasi

Bagi Dinas Pendidikan, meningkatnya capaian di berbagai kompetisi tidak serta-merta menjadi ukuran tunggal keberhasilan pendidikan.

Arman menilai sekolah juga memiliki tanggung jawab dalam membentuk karakter dan memastikan peserta didik tumbuh dengan kepercayaan diri serta lingkungan belajar yang mendukung.

“Guru itu jangan bangga karena prestasi anak baik. Itu hanya salah satu faktor dari tugas guru, yang paling utama itu bagaimana membangun kepercayaan diri anak, memastikan anak tidak tertekan, anak tumbuh sesuai umurnya kemudian anak menjadi riang ceria dan gembira,” jelasnya.

Dalam penerapan 7 KAIH misalnya, keterlibatan keluarga sebagai salah satu tantangan. Sebagian besar waktu anak berada di luar sekolah sehingga pembentukan kebiasaan tidak dapat sepenuhnya dibebankan kepada guru.

“Persoalan 7 KAIH ini jangan hanya fokus kepada siswa dan guru tapi keterlibatan orangtua juga sangat penting. Karena lebih dari setengah waktu anak itu ada dirumah waktu disekolah itu terbatas. Nah dari 7 kebiasaan anak itu, hanya 2 yang ada di sekolah sisanya ada dirumah,” terang Arman.

Dinas Pendidikan kemudian mendorong keterlibatan komite sekolah dan orang tua dalam sosialisasi program tersebut.

“Kita melibatkan komite sekolah agar program 7KAIH ini ada kolaborasi antara, siswa, guru dan orangtua,” tandasnya.

Dari Prestasi ke Ekosistem Pendidikan

Rangkaian capaian tersebut memberi gambaran bahwa jalur pengembangan prestasi pelajar Pohuwato mulai bergerak di berbagai bidang. Dinas Pendidikan Pohuwato kini mendorong agar capaian tersebut tidak berhenti pada sekolah atau siswa tertentu. Pengalaman sekolah yang berhasil diharapkan dapat dibagikan kepada satuan pendidikan lainnya.

Dengan demikian, tantangan pendidikan Pohuwato ke depan bukan hanya mempertahankan capaian yang telah diraih, Capaian tingkat provinsi hingga nasional menjadi salah satu indikator yang dapat dibaca dari proses tersebut. Namun, keberlanjutan prestasi tetap akan bergantung pada bagaimana sekolah, guru, orang tua dan pemerintah daerah membangun ekosistem pendidikan yang memungkinkan lebih banyak siswa untuk berkembang.

(Abd)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *